
Otoritas Jasa Keuangan menggelar Puncak Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2023 di Yogyakarta, Sabtu untuk semakin memperluas akses keuangan masyarakat terhadap sektor jasa keuangan, sehingga masyarakat dapat menggunakan produk dan atau layanan jasa keuangan secara lebih optimal untuk meningkatkan kesejahteraan dan memperkuat perekonomian nasional.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dalam sambutannya, menyampaikan bahwa OJK dan seluruh Industri Jasa Keuangan (IJK) berkomitmen penuh mendorong peningkatan indeks literasi dan inklusi keuangan nasional yang penting bagi penguatan ekonomi nasional di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi global.
“Kunci dari pertumbuhan dan penguatan ekonomi nasional tergantung kemampuan kita untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dengan memperhatikan literasi dan inklusi keuangan masyarakat,” kata Mahendra.
Menurutnya, OJK akan memprioritaskan sejumlah segmen masyarakat yang perlu terus diperluas inklusinya seperti pada penyandang disabilitas dan masyarakat di wilayah terpencil.
“Peningkatan akses keuangan masyarakat khususnya bagi difabel dan masyarakat yang berada di daerah terpencil penting untuk terus dilakukan. Seluruh masyarakat berhak untuk mendapat perlakuan dalam mengakses produk dan layanan jasa keuangan,” kata Mahendra.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan OJK berkomitmen untuk terus melakukan terobosan untuk memperluas akses keuangan masyarakat termasuk kepada penyandang disabilitas yang harus didorong untuk mendapatkan akses keuangan yang sama.
Menurutnya, OJK telah menyusun panduan bagi LJK dalam memberikan pelayanan kepada penyandang disabilitas berupa Petunjuk Teknis Operasional (PTO) untuk Pelayanan Keuangan kepada Penyandang Disabilitas serta melakukan kegiatan literasi dan edukasi bekerja sama dengan Persatuan Penyandang Disabilitas di Indonesia.
OJK juga telah memiliki infrastruktur literasi keuangan bagi penyandang disabilitas tuna netra yaitu buku perencanaan keuangan dalam versi Braile. Selain itu, OJK terus mendorong LJK untuk dapat memperluas akses keuangan disabilitas melalui program satu difabel satu rekening.
Pada Puncak BIK ini juga digelar “kick off” Sinergi Akselerasi Keuangan Inklusif bagi Penyandang Disabilitas antara OJK dengan Komisi Nasional Disabilitas dan Pemerintah yang diwakili Staf Khusus Presiden. OJK juga memberikan apresiasi kepada Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) yang menjadi penggerak keuangan inklusif bagi penyandang disabilitas. Apresiasi diberikan kepada BNI dan Allianz.
Financial Expo 2023
BIK pada 2023 mengambil tema “Akses Keuangan Merata, Masyarakat Sejahtera”. Rangkaian kegiatan BIK dimulai dengan kegiatan Road to BIK sejak Mei dengan kegiatan yang dilakukan antara lain sebagai berikut:
- Kegiatan fasilitasi pemberian kredit/pembiayaan bagi masyarakat serta pelaku usaha kecil dan mikro antara lain melalui kegiatan business matching;
- Kegiatan pameran produk dan/atau layanan jasa keuangan;
- Kegiatan akuisisi pembukaan rekening, polis dan produk keuangan lainnya;
- Kegiatan literasi keuangan (sosialisasi, webinar, bank goes to school/campus, klinik konsultasi, dan outreach program);
- Kegiatan Aksi Indonesia Menabung (Penerbitan Surat Edaran (SE) menabung, penandatanganan PKS, akuisisi rekening); dan
- Kegiatan kampanye dan publikasi program literasi, inklusi keuangan serta perlindungan konsumen secara masif.
Sedangkan kegiatan inti yang dilakukan pada puncak kegiatan BIK 2023 di Oktober adalah penjualan produk/layanan jasa keuangan berinsentif (pemberian discount, cashback, point, bonus atau reward) oleh LJK.
Secara umum, pencapaian selama pelaksanaan kegiatan BIK 2023 meningkat dari tahun sebelumnya. Selama periode pelaksanaan BIK tahun 2023, tercatat telah diselenggarakan sebanyak 2.851 kegiatan dengan total peserta sebanyak 1.841.357 masyarakat atau naik 15,09 persen dibanding dengan pelaksanaan tahun 2022. Rincian total rekapitulasi capaian akses keuangan selama BIK 2023 mencapai 7.936.718 akses produk layanan/jasa keuangan, antara lain:
- Industri Perbankan: Pembukaan rekening baru sebanyak 2.925.231 rekening
- Industri Pasar Modal sebanyak 131.058 rekening efek baru
- Industri Perasuransian adalah sebanyak 658.484 polis
- Industri Pembiayaan adalah sebanyak 543.731 debitur
- Industri Pergadaian adalah sebanyak 3.253.844 rekening
- Industri fintech adalah sebanyak 424.370 akun.
Sebagai puncak kegiatan Bulan Inklusi Keuangan, diselenggarakan kegiatan Financial Expo (FinExpo) dilaksanakan pada 26-29 Oktober 2023 di Pakuwon Jogja Mall. FinExpo digelar untuk mendorong peningkatan pemahaman dan penggunaan produk dan/atau layanan jasa keuangan serta sebagai bentuk sinergi dan kolaborasi antara Kementerian/Lembaga, LJK, Asosiasi dan E-commerce. Kegiatan FinExpo 2023 diikuti oleh 100 perserta. Pada kegiatan ini dilaksanakan beberapa kegiatan antara lain: pameran produk dan/atau layanan jasa keuangan dan UMKM, kampanye produk inklusi keuangan, serta edukasi dan sosialisasi produk/program inklusi keuangan.
Pada kesempatan yang sama, dilakukan penyerahan tabungan bagi pelajar Sekolah Luar Biasa (SLB) sebanyak 1.000 tabungan dengan total Rp100 juta oleh Panitia FinExpo 2023.
Dukungan PUJK juga terlihat dengan adanya penyerahan secara simbolis penyaluran kredit/pembiayaan kepada peserta business matching UMKM penyandang disabilitas antara lain PT BNI sebesar Rp350 juta, PT BPD DIY sebesar Rp50 juta, PT BSI sebesar Rp30 juta, PT Amartha Fintech sebesar Rp 5 juta dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) sebesar Rp3 juta.
Pada FinExpo 2023 juga diadakan kegiatan Syariah Financial Fair (Syafif) yang bertujuan untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah di masyarakat. Syafif juga mendorong sinergi dan kolaborasi dengan LJK Syariah untuk bisa berpartisipasi dan ikut mengedukasi, mengenalkan dan mempromosikan produk dan layanan jasa keuangan Syariah kepada masyarakat.
Selain itu, juga dilakukan pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) yaitu Teka Teki Silang (TTS) Terpanjang dengan Tema Keuangan Syariah. TTS ini terdiri dari 500 pertanyaan, berukuran lebar dua meter dan panjang 99 meter. Para pengunjung dan pelajar telah mengisi TTS sejak tanggal 26 September 2023. Inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan minat pengunjung untuk lebih mengenal dan menguji pengetahuannya tentang keuangan Syariah.
I don’t think the title of your article matches the content lol. Just kidding, mainly because I had some doubts after reading the article.
Thanks for sharing. I read many of your blog posts, cool, your blog is very good.
Your article helped me a lot, is there any more related content? Thanks!
Great resource. I’ve sent this to a few colleagues who are still stuck in 2015-era SEO tactics. Hopefully, this wakes them up.
This complements the “Entropy” theory perfectly. If you don’t introduce randomness, you’re just painting a target on your back. Glad to see others advocating for smarter engineering.
Spot on about the indexing delays. It’s not just about building the link anymore; it’s about the “stickiness” of the placement. We’ve been focusing heavily on that metric lately.
I’d love to see a follow-up post on how this integrates with social signals. We feel there’s a multiplier effect there that isn’t being fully utilized.
I’d argue that the content relevance is even more critical now. We’ve seen perfectly good links get devalued just because the semantic match wasn’t tight enough.
Brilliant articulation of the problem. The industry has been too focused on metrics like DA/DR instead of actual traffic flow and user behavior.
Does this apply to non-English markets as well? We’re seeing conflicting signals in our EU campaigns compared to what you’ve described here. Would love to hear your thoughts on regional variance.
I bookmarked this for my team. The section on avoiding footprints is crucial. We recently audited a site that got hit exactly because they ignored that principle. Good catch.
This is the missing piece of the puzzle for us. We had the content and the technical SEO, but the off-page signal diversity was lacking. Thanks for the clarity.
For anyone reading this, pay attention to paragraph 4. That subtle distinction between “diversity” and “randomness” is what saves you during a Core Update.
Have you considered the impact of mobile-first indexing on these placements? We’ve noticed that some “desktop-safe” strategies are flagging on mobile crawls.
Great resource. I’ve sent this to a few colleagues who are still stuck in 2015-era SEO tactics. Hopefully, this wakes them up.
Have you considered the impact of mobile-first indexing on these placements? We’ve noticed that some “desktop-safe” strategies are flagging on mobile crawls.
This is a solid breakdown. One thing I’d add is that the impact of these updates often lags by 2-3 weeks. We tracked this across multiple projects and found the recovery phase is where most people give up too early.
This complements the “Entropy” theory perfectly. If you don’t introduce randomness, you’re just painting a target on your back. Glad to see others advocating for smarter engineering.
I’m skeptical about the timeline you proposed, but I’m willing to test it. If this holds up, it changes how we structure our entire outreach program.
Actually, I have to disagree slightly with the second point. In our testing, we found that over-optimization was less of a factor than pure engagement metrics. It’s interesting to see how different niches react differently.
For anyone reading this, pay attention to paragraph 4. That subtle distinction between “diversity” and “randomness” is what saves you during a Core Update.
We’ve been A/B testing this exact hypothesis. Group A (your method) is outperforming Group B by 40% in terms of ranking stability. The data speaks for itself.
Thanks for the transparency. It’s refreshing to see a strategy that doesn’t rely on black-hat churn and burn. Sustainable growth is the only way forward.
This complements the “Entropy” theory perfectly. If you don’t introduce randomness, you’re just painting a target on your back. Glad to see others advocating for smarter engineering.
This complements the “Entropy” theory perfectly. If you don’t introduce randomness, you’re just painting a target on your back. Glad to see others advocating for smarter engineering.
I’m sharing this with our content team. We’ve been struggling to explain why “quality over quantity” isn’t just a cliché, and this illustrates it perfectly.
I’ve been following this topic for a while, and your analysis on the structural shifts really adds a new perspective. We’ve noticed similar patterns in our internal data at SignalLayer, specifically regarding the volatility timeline.
The depth here is impressive. Most guides just skim the surface of link velocity, but your point about “natural variance” hits the nail on the head. It’s exactly what we preach to our clients.
Question: Have you tested this approach with expired domains? We’re running some experiments now and the results are… mixed. Your methodology seems safer.
I don’t think the title of your article matches the content lol. Just kidding, mainly because I had some doubts after reading the article.