Yuk Intip Keseruan di PTPN X Jember!

Salah satu subsektor pertanian utama di Indonesia adalah subsektor perkebunan. Kegiatan perkebunan berfokus untuk mengusahakan tanaman tertentu pada tanah atau media tumbuh lain dalam ekosistem yang sesuai. Selain itu ilmu pengetahuan dan teknologi juga dijadikan sebagai alat bantu untuk mengolah dan memasarkan barang dan jasa hasil tanaman tersebut. Sektor perkebunan juga didukung oleh permodalan serta manajemen yang bertujuan untuk mensejahterahkan pelaku usaha dan masyarakat.

Perkebunan diselenggarakan atas dasar manfaat dan berkelanjutan, keterpaduan, kebersamaan, keterbukaan serta keadilan. Tanaman tembakau (Nicotiana tabacum L.) merupakan salah satu tanaman yang banyak di budidayakan dan dijadikan sebagai sumber pendapatan bagi masyarakat. Tembakau dijadikan ikon budaya oleh salah satu wilayah yang ada di Jawa timur yaitu Kabupaten Jember.

Kabupaten tersebut memiliki industri perkebunan BUMN yaitu PTPN X, intip keseruan kegiatan kunjungan lapang bersama kami yuk!!!

Hari Jum’at (23/6/2023), mahasiswa program studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jember angkatan 2020 melakukan kunjungan lapang melalui mata kuliah Manajemen Perusahaan Perkebunan di PTPN X yang berlokasi di Kecamatan Ajung Kabupaten Jember Jawa Timur. Dilansir dari situs resmi PTPN X mempunyai 2 bisnis utama yaitu gula dan tembakau. Tembakau yang kegiatan usahanya dilakukan di wilayah kabupaten Jember, meliputi Kebun Ajong Gayasan dan Kebun Kertosari. Tembakau yang dihasilkan merupakan tembakau cerutu kualitas ekspor yaitu tembakau TBN/VBN dan FIN/FIK dengan grade NW, LPW, RFU dan Filler. Tembakau NO/ VO dengan grade Dekblad, Omblad, dan Filler.

Pada kegiatan ini kami memiliki kesempatan untuk mempelajari mengenai proses onfarm tanaman tembakau. Kami dipimpin langsung oleh asisten manager tanaman yang memandu kunjungan lapang. “Jadi PTPN X itu terbagi menjadi 10 wilayah TBN (Tembakau Bawah Naungan), untuk kegiatan kali ini kita akan mengunjungi TBN (Tembakau Bawah Naungan) V yang memiliki luasan 60 Ha” (Kata Asisten manager tanaman, 23/6/2023). Kunjungan lapang kali ini lebih difokuskan mengenai kegiatan onfarm tembakau. Dari hasil kunjungan lapang ada beberapa tahapan pada kegiatan onfarm tembakau, antara lain pembibitan yang menarik untuk dipelajari.

Pembibitan merupakan tahap awal untuk menentukan hasil yang berkualitas dan harga jual yang tinggi. Menurut penjelasan dari asisten manager tanaman, proses awal pembibitan tembakau diletakkan pada media shelter yang merupakan tempat transit bibit dari pembibitan ke lahan. Tujuan diletakkannya tembakau pada shelter yaitu agar meminimalisir masa stressing bibit tembakau. Tahap selanjutnya, bibit tembakau dipindahkan ke bedengan yang memiliki kapasitas 7.500 — 8.000 bibit.

Tujuan pemindahan bibit ke bedengan agar memudahkan proses fotosintesis. Bibit yang berumur 10 hari setelah sebar akan dilakukan seleksi tahap 1 yang bertujuan untuk memilih bibit yang berkualitas baik dan tidak terserang hama. Kemudian dilanjutkan pada seleksi tahap ke 2 untuk bibit yang berumur 20 hari setelah sebar dengan tujuan untuk pertumbuhan bibit yang seragam. Kriteria bibit siap tanam yaitu sudah berumur 40-42 hari setelah sebar, tinggi minimal 8-10 cm, kekokohan batang (tidak nyacing/lunglai). For your information, tujuan buka dan tutupnya naungan pada bedengan yaitu agar terhindar dari stress dan pengokohan batang agar tidak nyacing. Penyiraman pembibitan dilakukan 2-3 kali sehari, namun disesuaikan dengan kondisi tanah dan cuaca.

Proses persiapan panen bibit tembakau dilakukan pada usia 38-42 hari setelah tanam. Selanjutnya proses petik dibagi menjadi 3 regu, 10 kali rotasi, 3 seri tanam per blok yang terdiri dari A1, A2, dan A3, setiap seri memiliki luasan 1,7 Ha. Dimana setiap 1 Ha lahan bibit tembakau terdapat 24.645 pohon. Terdapat tiga jenis daun yaitu daun kos (6 daun terbawah), daun kak (7-16 daun tengah), daun teng (17-20 daun atas). Adapun kriteria tembakau siap petik yaitu tanaman berusia 32-40 hari, pinggir lamina daun muncul warna kuning, fase pembungaan 5-10% dari per Ha lahan, nilai klorofil daun sebesar 290-320, waktu pemetikan paling baik dilakukan di sore karena tanaman tidak sedang mengalami fotosintesis. Pemetikan daun tembakau dilakukan secara bertahap dimulai dari bagian bawah hingga bagian atas daun. Jumlah daun tembakau yang normal yaitu sekitar 18-20 helai daun. Pada PTPN X terdapat beberapa kriteria kualitas tembakau yaitu yang pertama kualitas top grade dengan mutu daun Natural Wrapper (NW) dan Light Painted Wrapper (LPW), kualitas painted wrapper dan filler.

Setelah proses pemanenan dilakukan, daun tembakau langsung di kirim ke tempat gudang pengasapan. Kemudian dilakukan proses sujen yang terdiri dari 40 helai daun setiap STG (satu tali goni) dengan posisi daun berhadapan. Satu tali goni digantung pada susunan bambu yang biasa disebut kamaran, setiap kamaran berjumlah 500 STG dengan masa gantung selama 18-20 hari.

Proses selanjutnya yaitu pengeringan daun tembakau dengan cara pengasapan menggunakan sekam padi dan kayu kecil. Tujuan pengasapan yaitu untuk mengurangi kadar air pada daun tembakau dan mempengaruhi kelembaban & suhu gudang. “Pengasapan terbaik yaitu menggunakan bahan bakar kayu karet karena dapat menghasilkan aroma tembakau yang khas.” Kata asisten manager tanaman (23/06/2023).

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours